Etika Teknik dan Masa Depan Umat Manusia

Ilmu Pengetahuan dewasa ini  berkembang  seiring dengan berkermbangnya teknologi. Kecerdasan manusia yang menemukan hal – hal baru dlam bentuk hasil pemikiran, teori, sistem operasi, hingga benda-benda sebagai pesawat pembantu kerja.
Disisi lain, banyak kekhawatiran akan perkembangan Ilmu dan teknologi ini. Kekhawatiran itu beragam mulai dari adanya kerusakan fisik bumi, biologis (fisik manusia), kerusakan budaya, kerusakan sistem sosial dan kerusakan mental manusia.
Kekahwatiran ini sebenarnya sudah berkembang semenjak awal abad modern, dimana terjadi permasalahan dengan ditemukannya teori-teori yang meruntuhkan ‘keyakinan’ saintis sebelumnya. Walaupun kemudian dikisahkan selanjutnya sebagai bentuk pertentangan yang bermotif teologis, namun sebenarnya semua itu hanyalah pertentangan antara kenmapanan lama dan ‘usaha’ untuk memperjuangkan kemapanan yang baru.
Ilmu Pengetahuan dan teknologi adalah identik dengan sesuatu yang baru, sekaligus lama. Sebagai sesuatu yang baru karena dari hari ke hari selalu saja dihasilkan berbagai ‘produk kebudayaan’ hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan disebut lama karena ilmu pengetahuan dan teknologi selalu saja berpijak dari bentuk ilmu pengetahuan yang lama. Hadirnya ‘sesuatu’ yang baru dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi bukan merupakan sesuatu yang benar-benar baru, namun merupakan sesuatu yang merupakan hasil revisi dari konsep-konsep lama, atau merupakan bentuk gabungan beberapa konsep.
Seharusnya dari penjelasan di atas tidak ada masalah antara perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan masa depan ummat manusia. Ilmu pengetahuan dan Teknologi ada karena manusia (tentunya karena intervensi Pencipta Manusia), dan Manusia hidup membutuhkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun mengapa kemudian selalu saja muncul ketegangan diantarakuduanyayaitu antara perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan para humanis ?. Mungkinkan selalu ada ‘sesuatu’ sebagai agen ketiga yang menyebabkan ketegangan itu ?.
Mungkin mirip dengan konsep teologis agama apapun di dunia ini dimana di dunia ini selalu ada dua pertentangan antara kebaikan dan keburukan. Dari konsep ini hubungan harmonis yang seharusnya terjadi antara perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan masa depan umat manusia ini ada ‘setan’ pengganggu yang membuat keduanya sering mengalami ketegangan.
Dalam dunia modern ini, bentuk setan penganggu itu bisa dipetakan dalam berbagai indikasi. Sebagai contoh adalah ketika ada kekahwatiran perkembangan teknologi rekayasa genetika. Semenjak teknologi ini mulai dikembangkan selalu saja ada suara-suara miring yang mengkhawatirkan penyalahgunaan teknologi ini. Sepertinya, ada ketidak percayaan para humanis terhadap para teknolog akan rambu-rambu etika yang sudah diakui secara universal.
Contoh kedua adalah dengan berkembangnya teknologi nuklir dalam berbagai varian penggunaannya untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Teknologi ini memang merupakan teknologi yang khas pada abad ke dua puluh. Teknologi pemecahan atom yang kemudian ternyata terbukti bisa menghasilkan energi yang sangat besar ini walaupun akan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan manusia selalu menimbulkan kekahwatiran akan penyalahgunaannya. Hal ini mungkin seperti kisah ketika Albert Einstein sang ilmuan yang Meraih Nobel atas teori fisika itu yang juga bersedih setelah teorinya ‘terbukti’ dengan luluh lantaknya Hirosima dan Nagasaki setelah di Bom oleh Amerika Serikat.
Dengan asumsi diatas, sebenarnya setiap ilmu pengetahuan dan teknolgi selalu baik, namun kemudian ada ‘penyelewangan’ oleh agen karena kepentingannya yang tentu saja ‘egois’.
Dari kenyataan di atas maka peran agen menjadi sangat vital. Agen yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya memiliki alat kontrol agar selalu positif. Alat kontrol inilah yang kemudian disebut sebagai etika teknik.
Etika Teknik dikembangkan dari konsep Aksiologis dalam Filsafat Ilmu. Seperti yang kita ketahui, dalam filsafat ilmu dikembangkan konsep ontologi, epistimologi dan aksiologi. Menurut aliran filsafat Theistik kemudian dikenal juga cabang Filsafat berupa Teleologis. Dimana selain masalah etik yang merupakan bidang kajian dari cabang Aksiologi juga harus diperhitungkan motifasi seseorang untuk mempelajari dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologinya itu.
Referensi buku :
Etika Teknik dan Masa Depan Umat Manusia.

5 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    santo87 berkata,

    contohnya seperti apa y?

  2. 2

    ya2s berkata,

    contohnya seperti kasus kloning dan tentang berkembangnya teknologi nuklir dalam berbagai varian penggunaannya untuk pemenuhan kebutuhan manusia.
    oia aku lum nyerahin surat pendaftaran buat renang kak maap y

  3. 3

    dw1sulistyanto berkata,

    Jadi sebenarnya teknologi itu seperti buah simalakama donk??
    Terus sejauh ini apakah Etika Teknik sudah diterapkan dengan tegas?? Bagaimana batasan-batasannya?

  4. 4

    dhiaz berkata,

    @dw1sulistyanto
    iya bener banged soalnya kadang apa yang kita buat beum tentu ada yang setuju atau suka
    terus untuk masalah sudah diterapkan apa belum itu kalau menurut saya sebenarnya belum tegas karena mungkin sebenarnya di gunakan untuk kemudahan manusia tetapi ada juga yang menyalah ginakannya.
    Kalau batasan-batasanya saya sendiri masih mencari tahu tentang hal itu

  5. 5

    elilagi berkata,

    Teman2..silahkan kunjungi elilagi.net84.net
    dan tolong beri tanggapan.Terimakasih


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Ungkapkan pendapat Anda